Menulis Tanpa Stigma: Perspektif Gender dan HAM dalam Penulisan dan Pemberitaan Isu HIV
Jakarta, kabarsenayan.com. — Media massa memainkan peran krusial dalam membentuk opini publik dan persepsi masyarakat terhadap isu-isu sosial, termasuk HIV dan AIDS. Namun, studi yang dilakukan oleh Dewan Pers dan berbagai lembaga pemantau media menunjukkan bahwa pemberitaan terkait HIV masih kerap mengandung bias, kurang akurat secara medis, serta minim perspektif hak asasi manusia dan gender. Sebuah laporan pemantauan konten media oleh Remotivi (2022) mengungkap bahwa sekitar 40% berita terkait HIV/AIDS di media daring masih menggunakan istilah yang stigmatis seperti “pengidap HIV”, “penyakit mematikan”, atau mengaitkan HIV dengan perilaku ‘menyimpang’.
Untuk itu, Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) mengadakan
“Conduct Training for Journalist”, di Kawasan Kuningan Jakarta, pada tanggal 13 – 15 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk Meningkatkan pemahaman jurnalis tentang pentingnya perspektif transformatif gender dan hak asasi manusia dalam penulisan berita kasus HIV-AIDS. , Memperkuat dukungan jurnalis terhadap program eliminasi HIV-AIDS melaui praktik pemberitaan yang adil dan berbasis HAM, dan Membangun kesadaran kritis jurnalis untuk mewujudkan komitmen Pemerintah Indonesia mengakhiri AIDS 2030.
Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) adalah sebuah jaringan nasional berbasis komunitas yang berfokus pada isu-isu pekerja seks. Organisasi ini didirikan pada 28 Oktober 2009 dan bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak pekerja seks, menghilangkan stigma, mendorong partisipasi dalam pengambilan kebijakan terkait HIV & AIDS, serta mendapatkan pengakuan negara atas status mereka sebagai pekerja seks. OPSI berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap pekerja seks dan menyoroti bahwa pekerjaan seks adalah pilihan, bukan selalu menjadi korban.
OPSI adalah contoh organisasi yang berjuang untuk perubahan sosial di Indonesia dengan fokus pada isu pekerja seks. Melalui berbagai kegiatan dan program, OPSI berupaya untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua orang, tanpa terkecuali.
Koordinator Nasional OPSI, Rito Hermawan, yang akrab disapa Oppa, menyampaikan bahwa pendekatan aktif pada transformatif gender dilakukan secara memeriksa, mempertahankan, dan mengubah norma gender yang kaku, serta ketidakseimbangan kekuasaan dalam berupaya mengakhiri stigma dan diskriminasi HIV AIDS di semua tingkatan model sosio-ekologi. Selain itu, juga menciptakan ruang aman untuk refleksi dan berfikir kritis untuk mengubah relasi gender yang timpang menjadi norma-norma positif, adil, dan inklusif.
Kegiatan yang berlangsung 3 hari tersebut, dihadiri oleh Yani Angela, Suprihatun, Jeko dan Oppa, dikuti 20 media online.