Jakarta, kabarsenayan.com. — Peringatan peristiwa 1 Oktober 1965 dinilai penting untuk terus dikaji secara kritis oleh generasi muda, khususnya mahasiswa. Sejarah, termasuk perjalanan dan pemaknaan Pancasila, dinilai tidak semestinya dipahami secara tunggal, statis, maupun berdasarkan satu tafsir.
Hal itu disampaikan Dwi Rio Smboddo, anggota DPRD DKI Jakarta, komisi perekonomian. dalam forum intelektual yang digelar di lingkungan FISIP Universitas Bung Karno (UBK). Kehadiran narasumber dalam kegiatan tersebut disebut sebagai bentuk apresiasi sekaligus perhatian terhadap upaya kampus mendorong mahasiswa untuk terus mengingat berbagai peristiwa sejarah bangsa, termasuk peristiwa 1 Oktober 1965.
Menurut Dwi Rio Samboddo, proses mengingat sejarah harus dibarengi dengan cara berpikir yang kritis, terbuka dan dialektis. Setiap peristiwa sejarah perlu dilihat dari berbagai perspektif agar mahasiswa tidak terjebak pada pemahaman yang tunggal.
“Tidak bisa memiliki pemikiran terhadap satu kejadian, peristiwa, atau apa pun namanya, itu hanya tunggal, statis dan monotafsir,” ujarnya.
Forum semacam ini juga dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat kehidupan intelektual di lingkungan kampus. Ruang diskusi dan pertukaran gagasan diharapkan dapat membangun kehidupan akademik yang produktif sekaligus melatih mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dan intelektual muda.
Dwi Rio Samboddo menilai mahasiswa juga memiliki peran penting dalam melihat kembali berbagai catatan sejarah. Sebab, setiap sejarah berpotensi memiliki distorsi maupun bias dalam proses penyampaian dan pemaknaannya.
“Ini bagian dari rekan-rekan mahasiswa untuk menajamkan dan terlatih melihat dan meluruskan sejarah dalam kacamata dan sudut pandang rekan-rekan mahasiswa,” katanya.
Terkait pertanyaan mengenai kemungkinan adanya upaya rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dalam mengaburkan atau membentuk tafsir tertentu mengenai Pancasila dan sejarah 1 Oktober 1965, isu tersebut dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari kajian sejarah yang terbuka dan kritis, bukan melalui satu tafsir tunggal.
Karena itu, forum intelektual di kampus diharapkan tidak berhenti pada kegiatan diskusi semata. Gagasan yang muncul diharapkan dapat berkembang menjadi tulisan, rekomendasi maupun catatan akademik yang menambah khazanah kajian sejarah Indonesia.
“Setidaknya akan menambahkan banyak catatan-catatan yang sudah ada sebelumnya, sehingga melahirkan satu perguliran terhadap pemikiran-pemikiran apa pun terhadap sejarah kemarin, hari ini dan ke depan,” tutupnya.