Jakarta, kabarsenayan.com. –– International Ethnic Music Festival (IEMF) 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi musik Nusantara dan mancanegara. Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal kekayaan pengetahuan dan nilai kehidupan yang terkandung dalam musik tradisi.
Ketua Panitia IEMF 2026, Aristofani, mengatakan festival tahun ini menghadirkan sejumlah kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia serta negara lain. Dari Indonesia, peserta berasal dari Betawi, Jakarta; Kampar, Riau; Toraja, Sulawesi Selatan; Ngada, Nusa Tenggara Timur; serta kesenian Ebeg dari Banyumas, Jawa Tengah.
Sementara dari mancanegara, festival menghadirkan seniman Korea Selatan dan Filipina. Delegasi Korea Selatan tidak hanya terlibat dalam kegiatan festival, tetapi juga menggelar lokakarya atau workshop. Hasil workshop tersebut dijadwalkan dipresentasikan pada 8 November di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki.
Adapun perwakilan Filipina membawa tradisi nyanyian masyarakat T’boli yang memperkaya keragaman ekspresi musik etnik dalam festival tersebut.
Aristofani menjelaskan, kesenian Ebeg dari Banyumas juga menjadi salah satu penampilan yang menarik karena merepresentasikan hubungan antara bunyi, tubuh, dan fenomena kesurupan dalam tradisi masyarakat.
Menurutnya, seluruh penampilan tersebut dihadirkan berdasarkan pendekatan kuratorial yang mengangkat tema hubungan musik tradisi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pendukungnya.
Ia menjelaskan, penyelenggaraan IEMF sebenarnya telah berlangsung secara berkala sejak 2019. Setiap penyelenggaraan memiliki fokus kajian dan tafsir kuratorial yang berbeda. Pada edisi sebelumnya, festival pernah mengangkat penelitian mengenai tradisi lisan, yang kemudian menghasilkan eksplorasi nyanyian tradisional dengan berbagai tafsir musikal.
Selain itu, kajian organologi atau ilmu yang mempelajari alat musik juga pernah menjadi salah satu fokus festival. Sementara pada penyelenggaraan 2026, perhatian diarahkan pada hubungan musik tradisi dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pengetahuan masyarakat dalam memahami dan bernegosiasi dengan alam.
Aristofani menegaskan, IEMF diharapkan menjadi platform bagi generasi muda, termasuk kalangan Generasi Z, untuk lebih dekat dengan dunia musik tradisi. Menurutnya, tradisi bukan sekadar warisan seni pertunjukan, melainkan menyimpan pengetahuan yang sangat maju dan relevan untuk dipelajari.
“Harapannya, ini menjadi platform bagi mereka untuk bisa masuk ke dunia tradisi. Di dalamnya ada pengetahuan yang sangat canggih, termasuk bagaimana angin direkayasa melalui benda-benda berdasarkan pengetahuan tradisi untuk mengantisipasi alam dan bernegosiasi dengan alam,” ungkap Aristofani.
Ia berharap festival ini dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat luas untuk melihat musik tradisi dari perspektif yang lebih mendalam. Bukan hanya melalui bunyi, melodi, ritme, dan instrumen, tetapi juga melalui pengetahuan, pengalaman, serta cara hidup masyarakat yang melahirkannya.
Dengan menghadirkan seniman lintas daerah dan negara, IEMF 2026 diharapkan memperkuat dialog kebudayaan sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap kekayaan musik tradisional sebagai bagian penting dari identitas dan pengetahuan bangsa.